makalah teknik pembelajaan



Abstract
Pada proses pembelajaran bahasa diajarkan melalui empat keterampilan berbahasa. Keterampilan tersebut meliputi pembelajaran menyimak (listening), pembelajaran berbicara (Speaking), pembelajaran membaca (reading), dan pembelajaran mengarang ( writing).Di dalam proses pembelajaran guru bertindak sebagai fasilitator, komunikator dan organisator sumber belajar, Sedangkan siswa dituntut agar selalu aktif dan kreatif dalam pembelajaran.

PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pemerintah mengeluarkan standar pendidikan nasional sebagai penjamin mutu pendidikan di Indonesia. Penjaminan mutu diknas dimaksudkan dalam rangkan mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
Untuk mencapai standar kompetensi pembelajaran tersebut dirumuskanlah kompetensi dasar; materi pokok; kegiatan pembelajaran; indicator; penilaian yang meliputi: tehnik, bentuk instrumen, beserta contohnya; alokasi waqkti; serta sumber belajar yang digunakan.
Selanjutnya, petunjuk pelaksanaan pembelajaran dipersiapkan oleh guru dan diikuti oleh siswa bertolak pada kegiatan pembelajaran.Asas pelaksanaannya didasarkan pada kompetensi dasar yang ingin dicapai. Kompetensi dasar yang ingin dicapai dijabarkan dari standar kompetensi yang disesuaikan dengan materi pembelajaran dan alokasi waktu yang telah ditetapkan.

Setelah guru berusaha dengan segala kemampuannya untuk mencapai kompetenssi dasar yang telah ditentukan, dan pada akhir tahun pelajaran siswanya dinyatakan naik kelas atau lulus, bahagialah hatinya. Kebahagiaan tersebut juga kebahagiaan orangtua sehingga memberikan ucapan terima kasih yang tulus kepada guru yang telah membimbing anak-anaknya menyelesaikan jenjang pendidikan.
Kebahagiaan itu aberubah mendadak menjadi kecewa manakala anaknya yang telah lulus SD belum bias menyampaikan pidati pada hari ulang tahunnya. Sementara itu, anak yang telah lulus SMP tidak bias menulis surat undangan dan kakaknya yang lulus SMA belum bias memandu acara pada hari ulang tahun adiknya itu.
Apa yang tejadi? Bergema berbagai keluhan akan rendahnya keterampilan berbahasa Indonesia lulusan SD, SMP, dan SMA. Berbagai upaya telah dilakukan melalui pertemuan MGMP, KKG, telah  menemukan penyebabnya. Akan tetapi keluhan-keluhan itu tetap bergema. Oleh karena itu perlu kita diskusikan tentang teknik dan strategi pembelajaran keterampilan berbahasa.

  1. Pendekatan dalam Pembelajaran Bahasa
Proses pembelajaran adalah sejumlah komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Komponen-komponen dalam pembelajaran jika dirangkai dengan cara yang berbeda, maka akan mencapai hasil  yang berbeda dan memiliki fungsi yang berbeda pula. Komponen pembelajaran secara umum terdiri dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar. Dengan kata lain, pendekatan merupakan  proses pembelajaran yang menitik beratkan pada penguasaan hasil belajar berdasarkan prinsip-prinsip teoretis tujuan  pembelajaran dengan menggunakan teknik dan strategi yang efektif. Halsenada sesuai pendapat Anthony dalam Hadley (1963) menjelaskan ada tiga tingkatan hirarki dari konsep: 1 Approach,  sebagai serangkaian prinsip-prinsip teoritis, 2. Method, yang merupakan  perencana prosedur penyajian dalam peembelajaran bahasa, dan 3. Technique,  yang meliputi strategi-strategi untuk mengimplementasikan rencana metodologi. Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bahasa sebagai berikut:
  1. 1.      Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif merupakan pembelajaran bahasa yang memberikan kemampuan keterampilan berbahasa yang ditunjang oleh pengetahuan bahasa itu sendiri. Pendekatan komunikatif lebih mementingkan penggunaan bahasa dari pada kepemilikan pengetahuan mengenai bahasa. Artinya, penguasaan bahasa pada siswa bukan saja karena diberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan berbahasa, tetapi diberikan kesempatan untuk menggunakan keterampilan tersebut. Dengan melibatkan para pelajar berinteraksi dalam kegiatan berbahas, mereka dapat memahami apa yang dibaca dan didengarnya dan akhirnya dapat mengungkapkan bikiran dalam bahasanya.
Karakteristik pendekatan komunikatif sebagai berikut:
  • Belajar bahasa berarti berkomunikasi  dan makna merupakan hal yang  penting. Komunikasi yang efektif serta ucapan yang dapat dipahami sangat diutamakan.
  • Percakapan atau dialog harus berpusat pada fungsi-fungsi komunikatif dan latihan-latihan diadakan secara sederhana untuk penunjang pencapaian tujuan.
  • Segala upaya untuk berkomunikasi  dapat didorong sejak dini;  setiap sarana yang dapat membantu  para pembelajar dapat diterima  dengan baik sesuai dengan usia dan minat; penggunaan bahasa bersifat kontekstualisasi dan bahasa asli dapat diterima kalau memang perlu dan layak.
  • Para siswa diharapkan dapat berinteraksi dengan orang lain melalui kelompok atau pasangan secara lisan maupun tulisan dan itu akan menimbulkan motivasi instrinsik serta minat terhadap apa yang dikomunikasikan.
  • Membaca dan menulis dapat dimulai sejak dini, dari hari pertama kalau diinginkan.
  • Sosio linguistik dapat dipelajari dengan baik melalui proses komunikasi dan variasi linguistik merupakan suatu konsep inti dalam materi dan metodologi.
  • Bahasa diciptakan oleh individu seringkali melalui proses coba-coba dan salah atau  “trial and error”.
  • Pengurutan ditentukan oleh pertimbangan mengenai isi, fungsi atau makna yang menimbulkan minat.
  • Guru menolong para siswa sedemikian rupa sehingga dapat mendorong mereka bekerja dengan bahasa itu.
  • Guru tidak mengetahui secara tepat bahasa apa yang akan dipakai para siswa.

Buku pelajaran bahasa Indonesia yang menunjang pembinaan keterampilan berbahasa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Menekankan pada fungsi komunikatif
  • Mencoba merangsang agar merasa membutuhkan dan tertarik.
  • Menekankan keterampilan dalam menggunakan bentuk bahasa sehingga harus dirasakan pada aktifitas siswa.
  • Biasanya mempunyai keseimbangan yang baik di antara 4 keterampilan berbahasa
    • Menekankan pada spesifikasi dalam mengarahkan definisi
    • Berisi metode percakapan sehari-hari
  • Menganjurkan siswa bekerja dalam kelompok dan berpasangan serta mampu membuat organisasi
    • Menekankan pada kelancaran disamping ketelitian.

  1. 2.      Pendekatan Keterampilan Proses
Mengajar pada hakekatnya merupakan serangkaian peristiwa yang dirancang oleh guru dalam memberikan dorongan kepada siswa belajar. pendekatan keterampilan proses adalah kegiatan belajar mengajar dengan penekanan pengembangan keterampilan  peserta didik dalam memproses informasi sehingga ditemukan  hal-hal yang baru dan bermanfaat baik berupa fakta, konsep, sikap dan nilai.
Kemampuan yang dikembangkan dalam keterampilan proses yang antara lain:
  1. Pengamatan, yaitu keterampilan mengumpulkan data atau informasi melalui penerapan indera
  2. Menggolongkan (mengklasifikasikan), yaitu keterampilan menggolongkan benda, kenyataan, konsep, nilai atau kepentingan tertentu. Untuk membuat penggolongan perlu ditinjau persamaan dan perbedaan antara benda, kenyataan, konsep sebagai dasar penggolongan
  3. Menafsirkan (menginterpretasikan), yaitu keterampilan menafsirkan sesuatu berupa benda, kenyataan, peristiwa, konsep dan informasi yang telah dikumpulkan melalui pengamatan, penghitungan, penelitian atau eksperimen.
  4. Meramalkan, yaitu mengantisipasi atau menyimpulkan suatu hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang berdasarkan perkiraan atas kecenderungan, pola tertentu, hubungan antar data, atau informasi. Misalnya, berdasarkan pengalaman tentang keadaan cuaca sebelumnya, siswa dapat meramalkan keadaan cuaca yang akan terjadi.
  5. Menerapkan (aplikasi) yaitu menggunakan hasil belajar berupa informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori dan keterampilan. Melalui penerapan hasil belajar dapat dimanfaatkan, diperkuat, dikembangkan atau dihayati
  6. Merencanakan penelitian, yaitu keterampilan yang amat penting karena menentukan berhasil tidaknya melakukan penelitian. Keterampilan ini perlu dilatih karena selama ini pada umumnya kurang diperhatikan dan kurang terbina.
  7. Mengkomunikasikan, yaitu keterampilan menyampaikan perolehan atau hasil belajar kepada orang lain dalam bentuk tulisan, gambar, gerak, tindakan, atau penampilan.

  1. 3.      Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) ialah dengan penyajian bahan pelajaran terutama yang berhubungan dengan konsep-konsep pokok dan mengikutsertakan siswa secara aktif baik perorangan maupun kelompok. CBSA untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan kemampuan pribadi dalam hal-hal sebagai berikut:

1)      Mempelajari materi/konsep dengan sungguh-sungguh.
2)      Mempelajari, mengalami dan melakukan sendiri cara memperoleh suatu pengetahuan.
3)      Merasakan sendiri kegunaan, bakat terbuka, mengembangkan rasa ingin tahu, jujur, tekun, disiplin, kreatif terhadap tugas yang diberikan.
4)      Belajar dalam kelompok, menemukan sifat dan kemampuan diri sendiri serta teman sekelompoknya.
5)      Memikirkan, mencoba sendiri dan mengembangkan konsep sesuatu nilai tertentu.
6)      Menemukan dan mempelajari kejadian/gejala yang dapat mengembangkan gagasan baru.
7)      Menunjukkan kemampuan mengkomunikasikan cara berfikir yang menghasilkan penemuan baru dan penghayatan nilai-nilai baiki secara lisan maupun tertulis, melalui gambaran maupun penampilan sendiri.

Apabila diperhatikan ketaiga bentuk pendekatan: Pendekatan komunikatif digunakan dengan penekanan kepada kebermaknaan dan fungsi bahasa. Pendekatan keterampilan proses lebih menekankan pada kegiatan proses yang dilalui siswa dalam belajar, misalnya mengamati, mengklasifikasi, menafsirkan, menerapkan dan sebagainya. Kemudian CBSA lebih menitik beratkan pada cara belajar siswa yang menuntut siswa ikut serta secara aktif dalam pembelajaran baik secara perorangan, maupun sebagai anggota kelompok.


  1. Kegiatan dan Teknik Pembelajaran Keterampilan berbahasa
Pada proses pembelajaran bahasa diajarkan melalui empat keterampilan berbahasa. Keterampilan tersebut meliputi pembelajaran menyimak (listening), pembelajaran berbicara (Speaking), pembelajaran membaca (reading), dan pembelajaran mengarang ( writing). Kegiatan pembelajaran keterampilan berbahasa dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. 1.      Keterampilan membaca          
Setelah membaca suatu wacana tulis, siswa harus melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) mencari kata, frasa, klausa yang dirujuk dala suatu bacaan berdasarkan kata rujukan yang diberikan, (2) ebagai siswa merumuskan pertanyaan tentang isi bacaan dan yang lainnya berusaha menjawabf (3) memilih diagram / tabel ang sesuai dengan isi bacaan, (4) melakukan serangkaian printah tertulis, (5) menebak arti kata dan menerka arti bacaan, (6) menemukan kata-kata kunci dan gagasan pokok, (7) meringkas isi bacaan, (8) melengkapi bacaan dengan kata yang disediakan, (9) menentukan jenis paragraf, (10) membuat bagan alur isi bacaan dan sebagainya.

  1. Keterampilan menyimak
Sambil menyimak perintah atau wacana lisan, siswa melakukan kegiatan-kegiatan: (1) melakukan perintah (petunjuk) yang diberikan secara lisan, (2) memberikan jawaban atas pertanyaan lisan dalam perakapan, (3) melihat gambar yang sesuai dengan wacana lisan, (4) melengkapi tabel / diagram yang sesuai, (5) mengungkapkan pokok pikiran khusus yang sesuai dengan isi wacana, (6) mengurutkan gambar berdasarkan ungkapan lisan, (7) mengisi formulir, bagan atau tabel sesuai dengan informasi yang didengar.


  1. 3.      Keterampilan berbicara
Kegiatan pembelajaran berbicara meliputi: (1) saling memperkenalkan diri, (2) bermain peran dalam menerangkan sesuatu, memerankan wawancara, mengajukan permintaan mengungkapkan rasa simpati, dan mengundang serta memberikan jawabannya, (3) tanya jawab tentang keadaan serhari-hari (4) menceritakan kembali isi iklan yang telah dibaca, (5) bercakap-cakap berpasangan, (6) memberi komentar dan saran  tentang sesuatu, (7) berpidato dan menceritakan pengalaman pribadi, (8) bermain simulasi dalam menawarkan bantuan, (9) berargumentasi tentang suatu topik yang telah ditentukan, dan kegiatan sejenis lainnya.

  1. Keterampilan Menulis
Kegiatan menulis dapat dimulai dengan menyalin bacaan dan menyususn kalimat-kalimat sehingga merupakan ceretera. Kegiatan dapat dilakukan dengan: 1) Melengkapi ceritera sederhana, 2) Memberikan jawaban tertulis atas suatu pertanyaan, 3) Menulis paragraf dan narasi sederhana, 4) Menulis suatu rencana perjalanan, 5) Menulis memo, 6) menulis narasi suatu percakapan, dan menulis jenis-jenis surat, dan kegiatan-kegiatan lain.
Teknik pembelajaran keterampilan berbahasa dapat dilakukan: pembelajaran dengan teknik secara terpisah, dengan penggabungan, dan secara terpadu.

  1. 1.      Teknik pembelajaran terpisah
Pembelajaran keterampilan menyimak dimulai dengan membedakan bunyi dengan pasangan kata. Kemudian dilanjutkan dengan pemahaman permulaan, pada bagian ini disiwa diberikan perintah secara lisan untuk dilakukan namun bukan menjawab pertanyaan. Pemahaman selanjutnya siswa diperintahkan untuk menjawab pertanyaan guru. Langkah terakhir siswa diberikan dialog atau diajak dalam situasi wacana lisan dari berbagai media termasuk media elektronik. Dari teknik ini siswa diharapkan mampu menangkap wacana lisan dan dapat melaporkan isi wacana yang didialogkan.
Pembelajaran keterampilan membaca dimaksudkan untuk memahami dam memperoleh informasi dari wacana tulisan. Ahli lain (Morrow) mengembangkan tujuan ini adalan untuk tujuan kognitif, referensial, maupun afektif dalam mendapatkan kenikmatan membaca. Pembelajaran keterampilan membaca dimulai dengan pengenalan tema yang sedang disajikan, dan siswa diharapkan mampu membaca secara sepintas. Selanjutnya guru dan siswa secara bersama-sama mendiskusikan pola kalimat dan kosakata yang sulit, kemudian dilakukan Tanya jawab secara lisan, sehingga siswa mendapatkan gambaran umum tentang isi wacana yang sedang dibahas. Langkah selanjutnya siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan, dalam menjawab pertanyaan siswa membaca wacana secara rinci. Pertanyaan yang dianggap mudah dilakukan secara individual, sedangkan pertanyaan yang dianggap sulit harus diselesaikan secara kelompok. Setelah selesai menjawab pertanyaan secara tertulis, maka jawaban dicocokkan dengan mendiskusikan isi wacana. Terakhir kegiatan pembelajaran ditutup dengan membacakan wacana secara lisan. Untuk memperkuat materi pembelajaran dapat diberikan pekerjaan rumah dengan wacana yang berbeda pada tema yang sama.
Pembelajaran keterampilan berbicara dimaksudkan agar siswa mampu menyampaikan informasi secara sosial dan dapat diterima oleh oleh penutur dan pendengar. Kegiatan komunikasi lisan dilakukan secara alami yang sesungguhnya, artinya komuikasi yang dilakukan telah mengandung kesenjangan informasi. Kegiatan pembelajaran berbicara dimulai dengan menghafal dialog dan ceritera singkat. Selanjutnya kegiatan menceriterakan gambar-gambar, pada pada akhirnya kegiatan bermain peran, simulasi, diskusi sesuai dengan tema pada pokok bahasan materi pembelajaran.
Pembelajaran keterampilan berbahasa yang keempat adalah pembelajaran keterampilan menulis atau mengarang. Maksud dari pembelajaran ini adalah untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam bahasa. Kegiatan mengarang dilakukan secara terpimpin dan mengarang bebas. Pembelajaran mengarang secara terpimpin kegiatan belajarnya banyak ditentukan oleh guru, sedangkan mengarang secara bebas kegiatan belajarnya banyak ditentukan oleh siswa baik isi maupun gaya penulisannya.
Kegiatan pembelajaran menulis dimulai dengan menyalin suatu bacaan dan mengarang dengan bantuan gambar. Kegiatan pendalaman selanjutnya dapat dilakukan dengan kegiatan merangkum atau menerangkan isi bacaan dalam sebuah laporan tertulis. Kegiatan terakhir pada pembelajaran keterampilan menulis adalah mengarang bebas dengan ketentuan menggunakan kosa kata dengan pola kalimat (kaidah berbahasa) yang benar. Ahli lain (Chastain) menegaskan bahwa mengarang bebas yang dimaksudkan adalah telah ditentukan judul karangannya. 
  1. 2.      Teknik pembelajaran penggabungan
Teknik pembelajaran penggabungan yang dimaksudkan adalah penggabungan beberapa keterampilan berbahasa dalam kegiatan pembelajaran, misalnya keterampilan menyimak dengan mengarang, keterampilan membaca dengan berbicara. Teknik pembelajaran ini dilakukan dengan cara memberikan wacana lisan atau menggunakan alat elektronik. Selanjutnya siswa diminta membuat karangan tentang apa yang telah didengarkan. Kegiatan ini perlu memperhatikan tingkat kesukaran kosakata dan struktur bahasa. Terakhir siswa membacakan di depan kelas dan guru memberikan komentar dan koreksi terhadap karangan yang dibacakan.
Teknik penggabungan keterampilan membaca-berbicara pada proses pembelajaran bahasa dilakukan dengan cara: siswa diberikan naskah untuk dibaca dalam hati, kemudian merika diminta menceriterakan secara lisan isi wacana tersebut. Kemudian kegiatan pembelajaran diakhiri dengan mendiskusikan isi wacana. Pembelajaran penggabungan keterampilan berbahasa dapat juga dilakukan lebih dari dua keterampilan berbahasa melainkan empat sekaligus yang dikenal dengan pembelajaran bahasa secara terpadu.
  1. 3.      Teknik pembelajaran terpadu
Pada pembelajaran dengan pendekatan komunikatif, proses pembelajaran dapat dilakukan dengan mengelompokkan siswa dalam beberapa kelompok. Kemudian setiap kelompok diberikan wacana tulisan, dan dibacakan di depan anggotanya yang mendapat tugas menulis kembali isi wacana tersebut. Hasil karangan ditukar dengan kelompok lain untuk dipelajari. Hasil karangan tersebut dibacakan di depan siswa. Selanjutnya kegiatan pembelajaran diakhiri dengan diskusi tentang wacana tersebut. Teknik pembelajaran ini dikenal sebagai teknik pembelajaran keterampilan terpadu. Pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif adalah strategi pembelajaran bahasa yang dilaksanakan guru dalam mengemban tugas untuk pembelajaran siswa yang didasarkan pada pendekatan komunikatif.
Pengembangan keempat keterampilan berbahasa dilakukan melalui tema yang dipilih dalam proses pembelajaran secara terpadu. Maksudnya setiap kali pertemuan dalam pembelajaran mencakup keempat keterampilan bahasa tersebut, sedangkan unsur-unsur tatabahasa, lafal, kosakata, ejaan diajarkan untuk menunjang penguasaan keterampilan berbahasa di samping untuk kepentingan bahasa.

  1. Penilaian dalam pembelajaran bahasa
Bagian akhir dari program satuan pembelajaran adalah penilaian hasil belajar.
Ada empat aspek berbahasa yang perlu dinilai, yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis.

Ada beberapa pedoman untuk menyusun tes bahasa. Salah satu di antaranya dikemukakan oleh Weir  bahwa metode tes sebagai berikut:
  1. Tes membaca pemahaman, dengan bentuk 1) pilihan ganda, 2) jawaban singkat, 3) grup klos, dan 4) transfer informasi (menceriterakan kembali).
  2. Tes menyimak meliputi 1) tes keterampilan menyimak ekstensif dengan bentuk: a) pilihan ganda b) Jawaban singkat; 2) tes keterampilan menyimak intensif, berupa dekte.
  3. Tes menulis meliputi 1) metode tidak langsung untuk kemampuan linguistik, dan 2) tes menulis langsung.
  4. d.     Tes berbicara dengan bentuk 1) esai verbal; 2) presentasi lisan;              3) wawancara bebas; 4)wawancara terkontrol; 5) transfer informasi, deskripsi urutan gambar; dan 6) bermain peran. 
  1. Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Guru bahasa Indonesia dalam pembelajaran berfungsi sebagai berikut.
  1. Fasilitator, yaitu yang memberi kemudahan-kemudahan bagi siswa selama pembelajaran berlangsung.
  2. Komunikator, yaitu sewaktu-waktu menjadi partisipan bebas dalam kegiatan komunikasi yang dilakukan siswa.
  3. Organisator sumber belajar, yaitu mengorganisasikan materi dan strategi sesuai dengan tujuan pengajaran yang dirumuskan.
  4. Penasihat dan pembimbing kegiatan belajar.
  5. Manajer/pengelola kegiatan pembelajaran.
  6. Menganalisis kebutuhan dan hasil belajar siswa, yaitu meneliti kebutuhan siswa dalam belajar yang harus disediakan guru serta menganalisis hasil tes yang dibuat siswa.

Nana Sudjana membagi tiga kategori kompetensi, yaitu seperti yang diuraikan di bawah ini.
  1. a.      Kompetensi bidang kognitif, artinya kemampuan intelektual, seperti penguasaan mata pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan mengenai cara belajar dan tingkah laku individu, pengetahuan mengenai administrasi kelas, pengetahuan tentang cara menilai hasil belajar siswa, pengetahuan tentang kemasyarakat, serta pengetahuan lainnya.
  2. b.      Kompetensi bidang sikap, artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya, misalnya sikap menghargai pekerjaanya, mencintai dan memiliki rasa senang terhadap sesama teman seprofesinya, memiliki kemauan yang keras untuk meningkatkan hasil pekerjaanya.
  3. c.       Kompetensi Prilaku (performance), artinya kemampuan guru dalam berbagai keterampilan mengajar, membimbing, menilai menggunakan alat bantu pengajaran, bergaul, berkomunikasi dengan siswa, keterampilan menumbuhkan semangat belajar siswa, keterampilan menyusun persiapan/perencanaan mengajar, keterampilan melaksanakan administrasi kelas dan lain-lainnya. 
6. Siswa  Sebagai Pembelajar
Siswa sebagai subyek dalam proses berlar mengajar dituntut agar selalu aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Ellis mengemukakan bahwa pembelajaran bahasa yang baik akan :
  1. Mampu memberikan respon terhadap dinamika kelompok pembelajar untuk mengatasi rintangan;
  2. Mencari kesempatan untuk menggunakan bahasa sasaran;
  3. Menggunakan kesempatan secara maksimal untuk menyimak dan merespon ujaran yang dialamatkan kepadanya;
  4. Melengkapi pembicaraan dengan telaah teoritis khususnya dalam hal bentuk bahasa;
  5. Lebih dewasa dalam pengembangan ketatabahasaan;
  6. Mempunyai keterampilan analitik mengenai ciri-ciri linguistik dan dapat memantau kesalahan;
  7. Mempunyai alasan yang kuat untuk belajar;
  8. Sanggup mengadakan percobaan dengan segala resiko;
  9. Mampu menyesuaikan diri pada kondisi-kondisi pembeljaran yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

http://rinastkip.wordpress.com/

makalah olah raga

makalah olahraga wushu


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Sejarah Wushu.

Jurus Tangan Kosong
Taiji Quan, 42 jurus: Merupakan petikan dari gerakan tradisional tanpa mengubah karakternya. Gerakan Yang menjadi dasar, sedangkan Chen, Wu serta Sun sebagai pelengkap. Gerakan ini dimaksudkan untuk mempermudah atlet dalam mempergerakkannya yang disesuaikan dengan perkembangan jaman.

Chang Quan, 62 jurus: Dirangkai dari jurus tradisional Cha Quan, Hoa Quan, Huang Quan dan Sau Lim Quan yang memiliki karakter menyerang. Gayanya dan langkahnya gagah, mantap serta loncatannya tinggi. Di sini faktor kesulitan cukup tinggi.


Nan Quan 65 jurus:
Pukulannya pendek-pendek, bertenaga dan kuda-kudanya kuat. Gerakan kaki bersilang dengan loncatan yang hanya sedikit. Gaya ini banyak meniru gaya kera, harimau, elang, bangau sampai kelabang.

Jurus Senjata Panjang
Tombak: Gerakan tombak seperti ular berenang di atas air, berputar-putar dan mematuk ke depan, kiri kanan dan bawah. Segala gerakan ini dipakai untuk menangkis,membanting, membabat lawan.
Toya: Panjang toya setinggi sipemakai plus 10 cm terbuat dari rotan atau kayu lilin yang lentur. Karakter gerakannya cepat, beruntun, ganas dan bertenaga. Toya dipakai untuk membabat, memotong, melingkari tubuh dan berputar seperti baling-baling.

Jurus Senjata Pendek
Golok: Golok sebelah tajam, dan sebelahnya tumpul, Maka,belahan yang tumpul bisa berputar-putar di sekitar leher, ketiak dan pundak. Karakter Khusus gerakan golok ini bertenaga, galak, menusuk serta bergerak dengan lincah dan hidup. Sesekali suara golok mendesis menambah wibawa gerakan yang dilakukan.
Pedang: Kedua belah pedang tajam dan ringan. Gerakan menekan teknik menyerang dan membela, namun tetap indah dan berwibawa. Dibutuhkan kegesitan dan kelincahan tubuh untuk menutupi kekurangannya dalam membela diri.

B.     Rumusan Masalah.
Sejauh mana Perkembangan Olahraga Wushu di Indonesia ?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Wushu Dari Tahun Ke Tahun

1. Tahun 1986
International Wushu Federation didirikan di Xian, Cina dengan dihadiri wakil dari 16 negara. Eropa menyusul membentuk European Wushu Federation.

2. Tahun 1986
Terbentuk persatuan-persatuan wushu di banyak Negara di Asia, Amerika latin, dan Afrika.

3. Tahun 1987
Untuk pertama kalinya diselenggarakan perlombaan wushu se-Asia di Yokohama, Jepang. Indonesia meraih gelar ‘Penampilan Terbaik’ dalam ekshibisi lewat nomor Taiji Kipas (bagian dari wushu tradisional).

4. Tahun 1988
Kata ‘Wushu’ tertulis dalam berita rapat Olympic Council of Asia (OCA). Dan wushu ditetapkan sebagai salah satu cabang yang dipertandingkan dalam Asian Games XI Beijing. Tahun ini juga Festival Wushu pertama diselenggarakan di Hang Chiu, Cina dengan semboyan ‘Wushu Milik Dunia’. Indonesia meraih perunggu dalam Taiji Quan 48 jurus yang dipersingkat. Sedangkan medali ‘Penampilan Terbaik’ diperoleh dari Taiji Quan Berpasangan.

5. Tahun 1989
Kejuaraan Asia ke-2 di Hongkong. Dalam arena ini telah diberlakukan nomor wajib. Indonesia berhasil ke perempat-final lewat Taiji Quan 42 jurus wajib. Gelar penampilan terbaik diperoleh lagi dalam nomor ekshibisi.
6. Tahun 1991
Wushu dipertandingkan dalam SEA Games Manila untuk memperebutkan 4 set medali. Indonesia belum dapat mengikuti materi yang dipertandingkan.

7. Tahun 1993
Dalam SEA Games XVII Singapura, nilai rata-rata para atlet Indonesia sudah mencapai di atas 9. Meski masih sulit memperoleh medali, tetapi sudah cukup memuaskan, bila mengingat lamanya latihan yang hanya 6 bulan. Indonesia gemilang di kejuaraan Dunia Kuala Lumpur.
Wushu seringkali dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu eksternal dan internal. Kelompok external mempunyai ciri-ciri ‘keras’ seperti misalnya Shao Lin Chuan. Sedangkan kelompok internal mempunyai ciri-ciri ‘lembut’ misalnya Tai Chi Chuan.
Pembedaan ini berhubungan erat dengan pengolahan dan penggunaan energi (Chi) yang merupakan ‘isi’ dari gerakan dan pukulan.
Sebenarnya aliran dalam Kungfu/Wushu sangat banyak, namun secara garis besar bisa dibagi menjadi beberapa kategori antara lain:

1. Berdasarkan Letak Geografis:
Aliran Utara misalnya Shantung Aliran Selatan misalnya Hokkian

2. Berdasarkan Partai Persilatan:
Bu Tong Pay / Wu Tang Pay
Go Bi Pay / O Mei Pay
Siao Lim Pay / Shao Lin Pay

3. Berdasarkan Jenis Beladirinya.
Tai Chi Chuan
Pa Kwa Chang
Hsing Yi Chuan
Wing Chun

Kesemua aliran diatas biasa disebut Wushu Tradisional, variasinya sangatlah.  Barulah pada tahun 1960 Wushu dibakukan dimana materinya merupakan gabungan dari berbagai jenis Wushu Tradisional, maka terciptalah Modern Wushu seperti yang kini kita kenal.


B.     Fakta wushu di Indonesia

Bahkan sesungguhnya beberapa istilah wushu justru telah di-Indonesia-kan karena sesungguhnya olahraga ini sudah dikenal sejak era penjajahan Belanda, sementara olahraga lain tidak. Misalnya, atlet karate disebut karateka (bahasa jepang), atlet kempo disebut kenshi (bahasa jepang) sedangkan atlet wushu disebut wushuwan-wushuwati (bahasa indonesia), meskipun istilah di negara lain adalah wushuyuan.Salah satu hal yang menarik untuk diketahui ialah kaitan wushu dengan nama-nama yang cukup dikenal yaitu Shaolin pay, Butong pay, Kunlun pay dan sebagainya.
Nama-nama tersebut memang dikenal di negeri Cina sebagai perguruan kungfu yang hebat di masa lalu. Nama-nama tersebut lebih mendunia lagi dikarenakan cerita-cerita silat dan film-film silat yang sebagian besar merupakan fiksi berlatarbelakang sejarah. Nama-nama tersebut memang lembaga keagamaan, yang mengajarkan wushu sebagai alat kesehatan dan beladiri bagi kelompok mereka, tetapi wushu tetaplah teknik beladiri yang kebetulan banyak dipengaruhi ciri-ciri kelompok mereka.
Teknik tersebut bisa pula dipelajari orang-orang di luar kelompok mereka. Fakta sejarah menunjukkan bahwa wushu Shaolin juga dipelajari rakyat sipil. Bahkan perguruan wushu Shaolin yang dulu dikenal sebagai Shaolin pay, kini telah menjadi institut wushu dengan nama Shaolin Wushu Institut di Henan (Shaolin sendiri sebenarnya adalah nama kuil) yang isinya adalah para akademisi dari dalam maupun luar Cina.
Wushu gaya shaolin sekarang banyak menjiwai materi wushu internasional seperti chang quan, nan quan, dan sebagainya. Sedangkan wushu gaya Butong dikembangkan masyarakat menjadi salah satu nomor wushu terpopuler di dunia dengan nama taijiquan (tai chi). Jadi wushu sebenarnya adalah ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan cukup lama, dan bukan ritual dari agama-agama tertentu seperti Budha dan Tao.
Fakta sejarah yang memperkuat lainnya adalah gerakan Ming, yang terdiri dari para ahli wushu, tapi mereka bukan lembaga agama melainkan kumpulan cendikiawan dan ahli iptek. Fakta lain adalah kemunculan gerakan Taiping di akhir Dinasti Qing (Manchu) yang dipimpin Hung Xiu Quan. Kelompok pesilat Taiping ini adalah gerakan kaum pesilat Nasrani/Kristen, dengan peraturan dasar kelompok tersebut adalah Injil. Jadi jelas bahwa mempolemikkan wushu dengan cara mengidentikannya dengan agama tertentu, atau okultisme dan bertentangan dengan ajaran agama-agama tertentu, merupakan pemikiran yang sangat tidak tepat dan tidak bijaksana.
Fakta-fakta ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia generasi setelah tahun 60-an, bahkan banyak yang lebih percaya cerita film dan dongeng mulut ke mulut, daripada membaca sumber sejarah yang ilmiah yang telah ditulis dalam berbagai bahasa dan beredar di dunia internasional. Keadaan ini kemudian yang menyebabkan timbulnya salah pemahaman sebagaimana dirinci di atas. Bahkan sampai saat ini, harus diakui masih ada yang mengikuti pemikiran-pemikiran yang kurang tepat tersebut, termasuk mereka yang terlibat dalam pengembangan olahraga wushu di Indonesia saat ini.
Tai Chi Chuan / Tai Chi Quan berbeda dengan jenis Wu Shu yang berkembang sebelumnya dimana pada umumnya mengutamakan kecepatan dan kelincahan serta kedasyatan pukulan dan tendangan. Gerakannya halus dan lembut tetapi ‘bertenaga’. Kadang disertai dengan ‘ledakan’ yang disebut ‘Fa Jing’ yang merupakan ciri khas Wu Shu Internal.
Menurut legenda pencipta Tai Chi Quan adalah tokoh Tao yang hidup sekitar abad 13 yaitu Zhang San Feng / Can San Fung / Thio Sam Hong (Hokian) yang juga merupakan pendiri Wu Tang Bai / Bu Tong Pay (Hokian). Sejarah yang lebih pasti dimulai dari Chen Wang Ting, seorang Jendral yang hidup pada masa akhir dinasti Ming dan awal dinasti Qing (1644). Setelah keruntuhan dinasti Ming Beliau kembali ke Desa marga Chen dan mengajarkan Thai Chi Quan kepada keturunannya.
Awalnya Tai Chi Keluarga Chen tidak diajarkan kepada lain marga. Hingga keturunan generasi ke 15 dari Chen Wang Ting yang bernama Chen Chang Xing mempunyai seorang pelayan bernama Yang Lu Chan yang secara diam-diam ‘mencuri’ ilmu. Setelah ketahuan Chen Chang Xing menyuruh Yang Lu Chan mendemonstrasikan apa yang telah dia pelajari. Ternyata Yang Lu Chan sangat berbakat sehingga kemudian diangkat murid dan disempurnakan jurusnya.
Yang Lu Chan menjadi terkenal bahkan juga diminta untuk mengajarkan Tai Chi Quan kepada keluarga kerajaan. Perubahan mulai terjadi pada masa Master Yang Cheng Fu yang merupakan putra Yang Chien Hou. Beliau menyederhanakan Tai Chi Quan dan menjadikannya tidak sekedar sebagai seni beladiri tetapi juga sebagai seni untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Kemudian diajarkan kepada masyarakat luas.
Pada th 1956, dengan dasar Tai Chi Quan gaya Yang mulailah diperkenalkan Tai Chi Quan dalam bentuk yang telah sederhanakan menjadi 24 jurus. Untuk melatihnya hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit. Jenis inilah yang sekarang paling populer dan banyak dipelajari.

Filosofi Tai Chi Quan antara lain: Menundukkan Kekerasan dengan Kelembutan.
Mengikuti dan menyesuaikan dengan gerakan lawan. Mengatasi kekuatan ratusan kilo dengan hanya beberapa ons tenaga.

C.    Wushu dan beberapa jurus yang di pertandingkan

Wushu merupakan salah satu komponen penting di dalam warisan kebudayaan Tionghua yang telah mempunyai sejarah ribuan tahun. Wushu juga merupakan olahraga yang paling popular untuk segala usia di negara dengan penduduk 1,2 milyar jiwa.
Selama ini orang lebih mengenal kata Kung Fu daripada Wushu.Hal ini kurang tepat, karena kata "Kung Fu" sendiri artinya keahlian yang dimiliki seseorang, tidak hanya sebatas ilmu beladiri saja.Berdasarkan makna katanya "Wu" berarti military or perang,"Shu" berarti art or seni.Jadi Wushu berarti Seni berperang atau seni beladiri (Martial Art).
Dahulu Wushu merupakan suatu keahlian untuk membela diri & survival di dalam menghadapi masa yang penuh dengan perang dan kekacauan politik di China. Seiring dengan kemajuan jaman, maka Wushu telah diorganisasi secara sistematis kedalam bagian dari ilmu seni pertunjukan dan menjadi suatu cabang olahraga yang mempunyai keindahan aesthetic yang bernuansa oriental, yang telah diperlombakan baik di tingkat nasional maupun internasional seperti Sea Games, Asian Games, dan Olympic Games di abad 21 ini.
Jurus Wushu yang diperlombakan dewasa ini merupakan hasil penelitian dari para pakar olahraga Wushu di negeri RRC, meneliti semua jurus dan aliran di seluruh penjuru negeri tirai bambu tersebut. untuk distandarisasi menjadi gerakan seragam yg mewakili seluruh gerakan beladiri yg ada di negeri tsb, sehingga dapat diperlombakan/dipertandingkan di tingkat internasional.
Dari hasil penelitian tersebut maka terciptalah 7 macam jurus standarisasi internasional (Wu Shu Jing Sai Tao Lu) yang diperlombakan pada kejuaraan internasional.
Ke-7 macam jurus tersebut terdiri dari :
1. Tinju Utara (Chang Quan/Long fist)
2. Tinju Selatan ( Nan Quan/Southern fist)
3. Jurus Golok (Dao Su/Broadsword Play)
4. Jurus Pedang (Jian Su/Sword Play)
5. Jurus Toya (Gun Su/Staff Play)
6. Jurus Tombak (Qiang Su/Spear Play)
7. Jurus Tai Chi (Tai Chi Quan/ Shadow Boxing)

Maka dapat disimpulkan bahwa Wushu merupakan olahraga beladiri yang paling menarik untuk dilihat sebagai pertunjukan, berguna untuk beladiri, menjaga kesehatan dan juga untuk melatih mental serta disiplin, mengingat untuk berlatih wushu diperlukan kemauan dan usaha yang keras untuk dapat mencapainya.
Wushu di Indonesia lebih dikenal dengan nama Kungthauw dan lebih populer dengan nama Kungfu-merupakan seni beladiri yang berguna baik untuk kesehatan, seni maupun pembelaan diri. Wushu yang merupakan salah satu cabang olah raga, memiliki sejarah ribuan tahun dan merupaka warisan budaya Cina yang sudah lama dipraktekkan di Indonesia. Daya tarik wushu adalah pada lengkapnya seni ini dilihat dari aspek olah raga, kesehatan, bela diri, seni, maupun pada kemampuannya membangun sifat ksatria. Kini para peminat Wushu di Indonesia terus berkembang apalagi dengan semakin intensifnya digelar berbagai kejuaraan di arena lokal, nasional, bahkan internasional.

 

D.    Wushu cina muslim

Pembangunan Islam dan pengambilalihan pada taraf tertinggi wushu Cina telah ada sejarah yang lama. Banyak akarnya berasas pada Qing Dynasty persecution of Muslims. Masyarakat Hui telah bermula dan menadaptasi banyak gaya-gaya wushu seperti bajiquan, piguazhang, dan liuhequan. Ada daerah-daerah utama yang telah dikenali sebagai pusat wushu Muslim, seperti County Cang di Provinsi Hebei. Seni pertahankan diri ini adalah sangat lain dari gaya-gaya Turkic yang diamalkan di Xinjiang.

E.     Prestasi Pewushu Indonesia.
Prestasi pewushu Aldi Lukman peraih medali emas dalam cabang olah raga wushu di SEA Games 2009 Laos, perlu diikuti pewushu muda di Sumut. Apa yang telah dicapai Aldi di Laos itu harus bisa dicontoh, sehingga daerah ini akan terus melahirkan pewushu berprestasi.
Keberhasilan Aldi Lukman di SEA Games itu tidak hanya mengharumkan nama baik Sumut, tetapi juga mengangkat citra Indonesia di tingkat internasional.
Nama Indonesia semakin disegani oleh negara-negara di Asia, Eropa, bahkan di tingkat dunia. Indonesia sangat dihargai dalam prestasi olahraga wushu, ini harus tetap dipertahankan. Aldi Lukman yang mengikuti SEA Games di Laos itu, tidak pernah dibayangkan akan dapat meraih medali emas, namun ternyata di luar dugaan.
Keberhasilan Aldi menyabet medali emas di pesta olahraga Asia Tenggara itu, tidak hanya merupakan kebanggaan bagi dirinya, tetapi kejutan. Aldi Lukman tidak pernah membayangkan akan meraih medali emas di Laos. Ini suatu hal yang luar biasa Pewushu Sumut, Aldi Lukman juga peraih medali emas dan medali perak si kejurnas wushu 2004, medali emas dan medali perunggu di kejurnas 2005, medali emas dan medali perak di kejurnas 2006. Selain itu, Aldi Lukman juga meraih dua medali perak di kejuaraan wushu Zheng Zhou Championship. (Ant/i)

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari ulasan diatas  Maka dapat disimpulkan bahwa Wushu merupakan olahraga beladiri yang paling menarik untuk dilihat sebagai pertunjukan, berguna untuk beladiri, menjaga kesehatan dan juga untuk melatih mental serta disiplin, mengingat untuk berlatih wushu diperlukan kemauan dan usaha yang keras untuk dapat mencapainya.
Wushu di Indonesia lebih dikenal dengan nama Kungthauw dan lebih populer dengan nama Kungfu-merupakan seni beladiri yang berguna baik untuk kesehatan, seni maupun pembelaan diri. Wushu yang merupakan salah satu cabang olah raga, memiliki sejarah ribuan tahun dan merupaka warisan budaya Cina yang sudah lama dipraktekkan di Indonesia. Daya tarik wushu adalah pada lengkapnya seni ini dilihat dari aspek olah raga, kesehatan, bela diri, seni, maupun pada kemampuannya membangun sifat ksatria. Kini para peminat Wushu di Indonesia terus berkembang apalagi dengan semakin intensifnya digelar berbagai kejuaraan di arena lokal, nasional, bahkan internasional.

B.      Saran
Prestasi hanya didapat dengan belajar dan berlatih dengan tekun. Para atletik dan olahragawan yang sudah ternama memiliki pengalaman yang luar biasa. Sebelum memperoleh prestasi mereka mengalami proses yang sangat panjang hingga mencai suatu titik yang di inginkan. Dalam hal ini penulis ingin memberikan saran sebagai berikut :
1.      Tingkatkan prestasi dalam olah raga sehingga dapat mengharumkan nama bangsa
2.      Tingkatkan belajar demi impian dan cita-citamu
3.      Berolahraga adalah salah satu cara untuk mencapi hidup sehat.


DAFTAR PUSTAKA
kumpulan makalah, karya ilmiah,
google.com